You need to enable javaScript to run this app.

7 Peran Ayah dalam Keluarga dalam Islam, Tidak Hanya Cari Nafkah

  • Senin, 29 Januari 2024
  • Administrator
  • 0 komentar
7 Peran Ayah dalam Keluarga dalam Islam, Tidak Hanya Cari Nafkah

Ayah merupakan kepala keluarga yang memiliki kedudukan penting dan mulia. Selain itu, ayah juga memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga.
Peran ayah dalam keluarga menjadi kunci keharmonisan sebuah keluarga. Maka dari itu, sangat penting untuk memahami dan menerapkan peran tersebut dengan penuh keimanan.

Seringkali ayah digambarkan sebagai sosok pemimpin keluarga yang kuat, tegar, bijaksana, juga panutan bagi anak-anaknya. Kehadiran ayah juga sering menjadi fondasi utama penyangga keutuhan keluarga selain sosok ibu yang menaungi anak-anaknya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, "Seorang ayah adalah bagian tengah dari gerbang surga. Jadi, tetaplah di gerbang itu atau lepaskan," (HR Tirmidzi).

Dalam Islam terdapat beberapa peran ayah dalam keluarga. Berikut peran ayah dalam keluarga.

Peran Ayah dalam Keluarga
Dirangkum dari buku Keistimewaan Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak oleh Indra Mulyana, berikut beberapa peran ayah dalam keluarga:

1. Sebagai Kepala Keluarga
Ayah memiliki peran sebagai kepala keluarga yang mengendalikan keluarganya untuk mewujudkan visi dan misi yang telah direncanakan.

Visi dan misi dalam keluarga harus ditentukan oleh ayah dan ibu. Sebab jika visi dan misi telah ditentukan dan disetujui, maka visi dan misi dalam keluarga akan mudah diwujudkan.

2. Sebagai Sumber Keteladanan
Ayah merupakan sosok peletak dasar keteladanan dalam berbagai hal yang memiliki makna kebaikan. Maka, harus diingat bahwa ayah adalah peletak dasar yang diperkuat oleh ibu.

Keteladanan ayah memberikan pengaruh besar terhadap jiwa dan kepribadian anak. Sebab, anak akan cenderung meneladai apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

Ayah juga harus bisa menjadi teladan dalam hal ibadah dan pendidikan. Dengan adanya teladan yang baik, maka akan menimbulkan hasrat untuk meniru dan mengikutinya.

3. Mengajar dengan Penuh Kasih Sayang
Seorang anak sangat memerlukan kasih sayang seorang ayah dalam upaya mengembangkan kepribadian positifnya. Jika hubungan keluarga tidak harmonis, maka seorang anak akan tumbuh dengan karakter yang tidak baik.

Tanpa adanya kasih sayang, karakter anak juga tidak akan terbentuk jika hanya sebatas hubungan belajar dan mengajar saja. Maka dari itu, penting bagi seorang ayah untuk memberikan rasa kasih sayang ketika mengajar kepada anaknya.

4. Memberikan Nasihat dengan Lembut dan Kasih Sayang
Tidak diperkenankan untuk memberikan nasihat kepada anak dengan suara yang lantang dan terang-terangan. Ketika memberikan nasihat, harus dimulai dengan kiasan dan menyampaikannya dengan lembut dan kasih sayang.

Sebab, nasihat yang disampaikan dengan lembut dan kasih sayang tersebut akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan akhlak seorang anak.

5. Sebagai Motivator
Ayah memiliki peran sebagai motivator yang dibutuhkan oleh anak-anaknya. Sebab motivasi dan dukungan ayah mampu mempengaruhi kehidupan mental anak sehingga anak lebih kuat dalam menghadapi rintangan yang akan muncul.

Keadaan terpuruk dan putus asa mungkin akan hadir dalam kehidupan seorang anak. Maka dari itu, peran ayah sebagai motivator akan sangat dibutuhkan untuk seorang anak.

6. Menyesuaikan Kemampuan Berkomunikasi Anak
Ayah harus mampu berkomunikasi dengan anaknya sesuai dengan kemampuan dan usia anaknya. Sebab hal tersebut membantu anak untuk memperjelas dan mengurangi beban serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada.

Oleh karena itu, ayah harus mengerti bagaimana cara berkomunikasi terhadap anaknya. Ayah juga harus memperhatikan prinsip dasar berkomunikasi agar komunikasi terjalin efektif.

7. Memenuhi Kebutuhan Keluarga dari Sumber yang Halal
Dalam mencari nafkah untuk keluarga, ayah adalah tokoh utamanya. Mencari nafkah merupakan tugas yang tidak mudah.

Dalam Islam, nafkah harus bersumber dari sumber yang halal dan baik. Oleh karena itu, keluarga muslim harus memperhatikan sumber-sumber rezeki yang akan dicarinya. Jika penghasilan atau makanan yang dikonsumsi dari sumber yang tidak halal, maka sama saja memasukkan neraka ke perut anggota keluarganya.

Makanan yang halal memberikan pengaruh yang positif terhadap jiwa. Selain membuat jiwa menjadi tenang, makanan halal juga membuktikan kehalisan budi seseorang.

Bagikan artikel ini:
Hj. Eva Mulusia, S. Pd

- Kepala Sekolah -

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabaratuh Bissmillahirrahmanirrahiim Welcome to SDIT Tirta Buaran… Selamat datang di dunia pendidikan SDIT Tirta Buaran. Kami merasa...

Berlangganan
Banner