You need to enable javaScript to run this app.

Ayah Bunda, Yuk Hargai Kecerdasan Anak

Ayah Bunda, Yuk Hargai Kecerdasan Anak

SDIT-TIRTABUARAN, JAKARTA–Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar yang diberikan Tuhan kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus-menerus mempertahankan, memberdayakan, dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berpikir dan belajar secara dinamis dan berkelanjutan.

Selama ini, kebanyakan masyarakat terutama orangtua/guru menilai anak/siswa yang cerdas adalah anak yang pintar di bidang hitung-hitungan (matematika-logis) dan baca-tulis (linguistik) saja. Jika sang anak mendapat nilai 100 pada mata pelajaran matematika/bahasa, maka orangtua pasti senang karena anaknya “dianggap sudah pintar”.

Namun kasus lain, jika anaknya memiliki nilai matematika di bawah rata-rata, sedangkan anaknya ahli –bahkan sering juara- di bidang olahraga/musik, maka tidak jarang dijumpai sikap orangtua/guru pasti “tenang-tenang” saja (baca: cuek). Hal ini disebabkan, dalam paradigma mereka, anak yang sering juara olahraga/musik, tetapi lemah di bidang matematika/bahasa tersebut tidak bisa dibanggakan dalam masa depannya. Padahal sesungguhnya, setiap anak yang dilahirkan adalah cerdas dengan membawa potensi dan keunikan masing-masing yang memungkinkan mereka untuk menjadi individu yang cerdas dalam bidangnya.

Howard Gardner dalam bukunya yang berjudul Multiple Intelligences, menyatakan terdapat sembilan kecerdasan pada manusia, yaitu: kecerdasan linguistik/verbal/bahasa, kecerdasan matematis logis, kecerdasan visual/ruang/spasial, kecerdasan musikal/ritmis, kecerdasan kinestetik jasmani, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial.

Tugas orangtua dan pendidiklah mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak.

Sejauh ini, terkait penerapan konsep multiple intelligence dalam sistem pendidikan juga terkesan ala kadarnya. Agaknya sulit untuk mengubah model penerapan tersebut, karena paradigma dan kebiasaan “salah” yang selama ini dilaksanakan telah mengakar kuat.

Di lembaga pendidikan formal hanya dua jenis kecerdasan yang diakui sebagai tolok ukur keberhasilan atau prestasi siswa. Khususnya kecerdasan yang menyangkut bahasa dan matematika (hal ini juga tercermin dalam penyelenggaraan UN/SPMB/SBMPTN).

Faktanya, banyak orangtua yang sering kali menekankan agar anak berprestasi secara akademik di sekolah. Agar mereka menjadi juara kelas dengan harapan ketika dewasa bisa memasuki perguruan tinggi favorit. Masyarakat pun mempunyai kepercayaan bahwa sukses di sekolah adalah kunci kesuksesan hidup di masa depan.

Ternyata, “kesalahan paradigma” tersebut juga menjangkiti sistem pendidikan anak usia dini (PAUD). Selama ini banyak lembaga PAUD yang salah dalam memperlakukan anak didiknya. Mereka “lupa” bahwa dunia anak sebenarnya adalah dunia bermain.

Uniknya, setiap anak boleh mencoba segala sesuatu dan boleh melakukan kesalahan. Seharusnya, PAUD “hanya” ditujukan untuk menstimulasi atau merangsang semua potensi anak, baik jasmani maupun rohani sebelum memasuki pendidikan lebih lanjut. Bahkan, terdapat lembaga PAUD mengajarkan materi yang terlalu berat dan tidak sesuai dengan kemampuan anak.

Hal tersebut harus segera ditindaklanjuti mengingat anak usia dini merupakan komunitas yang sedang dalam masa pertumbuhan, sehingga memerlukan penanganan yang tepat. Jangan sampai para guru PAUD mengajarkan sesuatu yang terlalu berat bagi anak-anak.

Kalaupun memang harus diberi pelajaran membaca, menulis, dan berhitung, para guru harus menggunakan cara yang menarik dan menyenangkan, menyesuaikan dengan perkembangan kecerdasan sang anak.

PAUD dimaksudkan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak pada usia dini agar dapat tumbuh-kembang secara sehat dan optimal sesuai dengan aspek perkembangan dan keperluan kehidupan anak selanjutnya.

PAUD memiliki fungsi:

  • Pengembangan segenap potensi anak;
  • Penanaman nilai dan norma kehidupan;
  • Pembentukan dan pembiasaan perilaku yang diharapkan;
  • Pengembangan pengetahuan dan keterampilan dasar;
  • Pengembangan motivasi dan sikap belajar yang positif.

Dengan demikian, hemat penulis penyelenggaraan proses pembelajaran PAUD harus lebih diarahkan pada pengembangan potensi kecerdasan anak. Singkatnya, baik orangtua/guru tidak perlu memaksakan anak harus pintar di bidang ini-itu. Tetapi, yang penting adalah bagaimana kita dapat mengidentifikasi kecenderungan kecerdasan yang dimiliki anak, lalu bagaimana kita berupaya untuk mengembangkannya. Kita harus menghargai kecerdasan anak sesuai dengan ‘fitrah’nya. (ran)

Editor: Hay Izoruhai

Sumber: Kompas.com

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Hj. Eva Mulusia, S. Pd

- Kepala Sekolah -

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabaratuh Bissmillahirrahmanirrahiim Welcome to SDIT Tirta Buaran… Selamat datang di dunia pendidikan SDIT Tirta Buaran. Kami merasa...

Berlangganan
Banner