You need to enable javaScript to run this app.

Berikut Ini Solusi Jika Anak Tak Mau Bergaul

Berikut Ini Solusi Jika Anak Tak Mau Bergaul

SDIT-TIRTABUARAN, JAKARTA–Terkadang, ada anak yang tak mau lepas dari orangtuanya. Padahal, ada teman sebayanya yang mengajak bermain. Tapi si anak tetap nyaman bersama ortu.

Anak yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan dalam bersosialisasi biasanya terjadi karena beberapa faktor. Sehingga anak masih enggan untuk menerima lingkungan mainnya sebagai tempat belajar dan menambah wawasan pengetahuannya.

Pada anak usia dini, hubungan sosial tercipta karena kemampuan bermain dengan lingkungan. Seiring waktu kemampuan sosial emosional akan menjadi meningkat sesuai usia dan perkembangan anak.

Anak mengalami kemajuan dari tahap bermain sendiri menuju tahap bermain secara kelompok. Namun pada kenyataannya ada beberapa anak yang tidak mau bergaul atau bermain bersama dengan beberapa sebab baik berasal dari diri anak sendiri maupun dari lingkungan.

Penyebab dari anak antara lain, faktor fisik dimana anak yang mengalami kekurangan menyebabkan menarik diri dari lingkungan bermainnya. Adapun faktor dari luar adalah beberapa sikap orangtua yang terlalu otoriter terhadap anak karena kekhawatiran yang berlebihan atau sebab lain. Atau bisa juga orangtua yang tidak memiliki inisiatif saat melihat anak belum mau bermain dengan teman-temannya.

Penyebab lain adalah anak yang mengalami ketidaknyamanan saat bermain bersama, karena sering diejek, dicemooh dan sebagainya sehingga menarik diri dari pergaulan. Jika dibiarkan, hal ini dapat bersifat permanen jika orangtua atau guru tidak mampu mencari solusi yang tepat dan akan merugikan dalam perkembangan sosial dan emosional anak.

Seperti dikutip Kompas.com yang melansir laman Ruang Guru PAUD Kemendikbud Ristek, berikut ini beberapa solusi jika anak tak mau bergaul:

  1. Kenalkan lingkungan bermain tidak dengan paksaan

Orang tua harus mencoba mengajak atau memperkenalkan lingkungan bermain tidak dengan paksaan. Jika anak benar-benar hanya ingin bermain di rumah atau saat di sekolah ingin bermain sendiri, maka membiarkan anak untuk sementara menikmati aktivitas bermainnya adalah lebih baik. Ayah Bunda atau guru dapat menemani anak bermain dan mengajak bercerita tentang asyiknya bermain bersama teman sehingga lambat laun anak akan penasaran rasanya bermain atau bergaul dengan teman.

  1. Kenali karakteristik dan emosi anak

Mengenal karakteristik dan emosi anak agar saat melatih anak mampu bergaul dengan lingkungan mainnya tidak menemukan kendala berarti. Batas kewajaran saat anak bergaul perlu juga diperhatikan karena kompleksitas anak saat bermain bersama akan dijumpai.

Sebagai contoh anak yang terbiasa manja, cengeng atau yang mempunyai perilaku merusak akan muncul saat bergaul atau bermain. Berilah pemahaman pada anak untuk saling menghargai dan saling menyayangi saat bermain bersama.

  1. Sediakan lingkungan sesuai usia anak

Menyediakan lingkungan bergaul atau bermain anak yang nyaman sesuai dengan usia dan perkembangannya agar dapat membantu kemampuan adaptasi anak secara positif dan optimal.

  1. Temani anak bermain

Menemani anak saat bergaul dengan lingkungan mainnya. Secara bertahap jika anak sudah mampu beradaptasi orangtua dapat melepas anak bermain namun tetap dalam pengawasan.

  1. Beri pengaruh sosial pada anak

Keluarga atau orang terdekat yang sangat berpengaruh dalam perkembangan sosial anak memberi pengalaman belajar tersendiri pada anak bagaimana cara bersosialisasi dengan lingkungan. Oleh karena itu peran lingkungan terdekat akan memberi sumbangan penting dalam kemampuan anak bagaimana menumbuhkan potensi kemampuan sosial emosionalnya.

  1. Beri penghargaan jika telah mandiri

Memberi reward saat anak mampu bermain dengan lingkungan mainnya secara mandiri dan penuh keberanian. Reward memberikan makna pada anak sebagai pengakuan positif dari lingkungan terdekat atas apa yang dilakukan sehingga anak merasa diperhatikan, didukung dan disayangi.

Sebagai orangtua atau guru hendaknya selalu bersikap bijaksana dan sabar dalam menghadapi anak yang mempunyai masalah dalam bersosialisasi. (ran)

Editor: Hay Izoruhai

Sumber: Kompas.com

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Hj. Eva Mulusia, S. Pd

- Kepala Sekolah -

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabaratuh Bissmillahirrahmanirrahiim Welcome to SDIT Tirta Buaran… Selamat datang di dunia pendidikan SDIT Tirta Buaran. Kami merasa...

Berlangganan
Banner